|
Membaca pengakuan Dita Siska Millenia dan Siska Nur
Azizah di Majalah Tempo membuat kita bergidik. Betapa tidak, Dita mengaku
ingin ISIS ada di seluruh dunia, tak hanya Indonesia. Keduanya juga sama-sama
mengatakan demokrasi itu haram karena bikinan manusia. Usia mereka baru
20-an. Ditangkap polisi di Mako Brimob karena dituduh ingin membantu napiter.
Dita dan Siska mendapat asupan informasi tentang ISIS dari Telegram.
Sebetulnya cukup sukar memahami pola pikir Dita dan
Siska. Mereka masih muda, akrab dengan sosial media, juga terpelajar
(diketahui Siska kuliah di UPI Bandung). Mestinya mereka bisa menjadi bagian
dari generasi muda Islam yang terbuka, toleran dan moderat. Tapi fakta
menunjukkan sebaliknya.
Usai membaca laporan Tempo, saya membaca
buku Muslim Milenial; Catatan dan Kisah Wow Muslim Zaman
Now terbitan Mizan. Serba-serbi generasi milenial muslim dikupas
tuntas di buku itu. Buku tersebut karya para alumni MEP (Muslim Exchange
Program) Australia-Indonesia. Membaca buku Muslim
Milenial memunculkan optimisme, kontras sekali rasanya dengan ketika
saya membaca laporan Tempo.
Buku Muslim Milenial setidaknya dibagi menjadi
empat tema besar: sosial media, gaya hidup, dakwah dan perdamaian. 37 orang
alumni MEP Asutralia-Indonesia bercerita pengalaman masing-masing. Mereka
adalah para pemimpin muda yang banyak berinteraksi dengan para milenial di
tempat mereka berkiprah. Salah satunya adalah Ahmad Romzi yang menggagas AIS
Nusantara. Romzi menekankan pentingnya literasi digital di tengah era banjir
informasi seperti saat ini.
Lalu, bacalah tulisan bertajuk Fashion Muslimah
Indonesia yang Kian Kekinian (Lis Safitri) dan Muslimah Ngehits di
Tengah Modest Fashion (Nurjanni Astiyanti). Keduanya begitu piawai
menjelaskan tren fesyen muslimah dari masa ke masa (sesuatu yang sering saya
abaikan). Membaca dua tulisan itu, seketika sirna bayangan menyeramkan
pemikiran Dita dan Siska yang anti demokrasi dan pro ISIS.
Lis Safiti dengan baik memaparkan tren hijab kekinian
serta perkembangan fesyen muslimah dari 1990 hingga 2017. Ia mencatat,
misalnya, di tahun 90an pernah moncer kerudung berkopyah sebagaimana
dikenakan grup kasidah Al-Manar, Tasikmalaya. Di tahun 2000-an, saat ia masih
belajar di SMU umum, muslimah pengguna jilbab masih sedikit, sekitar 10-15%.
Adapun di 2005 meningkat drastis hingga 90%.
Tahun 2010, menurut Lis, adalah tahun penting
perkembangan fesyen muslimah. Salah satunya ditandai dengan munculnya desainer
dan artis yang fokus pada ceruk tersebut, seperti Dian Pelangi, Jenahara,
Zaskia Adya Mecca dan Risty Tagor. Kemunculan Hijabers Community juga perlu
dicatat sebagai penanda.
Tren hijab terus berkembang hingga di tahun 2016 muncul
istilah hijab syar’i, serupa yang biasa dikenakan Oki Setiana Dewi.
Sayangnya, menurut Lis, hijab syar’i hanya sebatas tren. Dipakai hanya saat
pengajian atau acara-acara tertentu, selebihnya mereka kembali dengan pakaian
yang biasa mereka kenakan.
|
credit: isami.co


Komentar
Posting Komentar